Saturday, November 14, 2015

Surat tak bertanda

Halo folks, setelah sekian lama ngga nulis banyak sekali hal yang ku alami. Ingin ku tuliskan semuanya di blog ini tapi rasanya pasti tak cukup.

Kini saya sudah berada di bangku SMA. Saya mulai biasa dengan lelahnya sekolah. Akan tetapi, ada sesuatu yang terus menghantui pikirin saya, yang sayang sekali tak bisa dituliskan disini. Di malam yang dingin ini, saya kembali menulis. Menulis kan rasa yang tak terlukiskan lagi keadaannya. Saya takut, cemas, malu, bingung, semua bercampur.

Saya mulai kembali berfikir, apa tujuan saya? Jika saya berhasil dalam tersebut apa artinya kalau saya tertekan? Celotehan manusia yang tak mengerti mulai menanyakan sebab dari pembangkangan hati ini. Saya tau yang hati saya mau.

Malam ini masih terasa sayat-sayat di hati. Teringat masa silam yang begitu damai, tak ada beban di hati ini. Saya ingin kembali ke masa itu! Saya ingin sekali! Teman, malam ini saya membuat kopi. Terasa manis karena kenangan masa lampau meski aku lupa menaburkan gula.

Aku berdoa agar bisa keluar dari lingkaran ini, yang terus saja aku kelilingi. Lingkaran rasa sakit yang tiada henti. Hanya dalam bentuk ini lah aku dapat bercerita. Rasanya jika bercerita pada mahluk hidup, sia-sialah. Tak ada rasa tenang. Aku bersyukur masih memiliki Tuhan. Sehingga aku dapat menyampaikam rasa sakit yang tak terbendung ini, rasa takut, cemas, sakit. Memang terasa berdenyut. Aku ingin sekali keluar. Tapi bagaimana? Lingkaran ini buntu, cara satu-satunya adalah terbang ke atas daripada berada di lingkaran.

Air mata ini tak dapat turun lagi, terasa sakit di hati. Saya nggak bisa melanjutkan. Saya nggak bisa melanjutkan apa yang saya nggak suka. Mungkin bagi sebagian orang, jalani dulu maka kau kan cinta. Tapi tidak denganku. Bagaimana kalau aku bertambah menderita? Apa kau akan bertanggung jawab? Kurasa tidak.
Aku sudah tak pikirkan apankata mereka. Apa kau tahu berapa malam yang kulewati mencoba melupakan hal itu? Apa kau tahu berapa banyak asam lambung yang terus mengaduk perut ini akibat pikiran yang terus berjalan? Apa kau tahu berapa tempat hiburan yang ku datangi untuk lupakan hal itu? Tapi hati ini tak kunjung lupa. Kini aku mulai merasa lega, karena mulai saat ini aku akan dengarkan kata hati.


Sekian surat saya,
Dari hati yang tersayat oleh pikiran sendiri.